karena bahagia bertambah, ketika kita berbagi.

10 Juni 2018

Belajar Jalan

Minggu, Juni 10, 2018 Posted by Sylvia Farmasya No comments
Sekuat tenaga mencoba berdiri. Segala upaya dilakukan. Berpegangan pada benda yang kokoh menjadi pilihan teraman. Tapi, disaat seperti ini memangnya masih berpikiran dengan aman? Ahh kapan bisa nya kalau hanya ingin aman. Nekat sedikit boleh lah.

Oke, sekarang sudah berdiri. Lalu apa lagi? “Ayo melangkah!”, mereka berkata seperti itu dari tadi. Ooh oke! Tapi sambil merambat ke samping boleh kan ya, biar tetap aman. Ehh, mereka bertepuk tangan. Menyemangati. Ayo melangkah kedepan. Kalau kedepan nanti berpegang pada apa?

Seketika mengubah arah berjalan. Kali ini kedepan. Dua manusia dewasa di depan begitu semangat sambil merentangkan tangan kedepan. Memberi dukungan agar berani melangkah kedepan.

Lalu, langkah pertama pun dimulai. Perlahan-lahan. Badan bergetar mencoba menyeimbangkan keseimbangan baru yang belum pernah dirasa. Tangan menggapai-gapai kedepan. Berusaha meraih rentangan tangan manusia di depan.

Bruk! Terjatuh!

Lalu bangkit lagi. Memulai dari awal. Meraih, berdiri, berbalik, dan mulai melangkah.
Terjatuh lagi.
Mencoba lagi.

Akhirnya langkah pertama pun terjadi.

Dilanjutkan langkah berikutnya. Hingga bisa berjalan dan berlari.

Apa ini mungkin terjadi jika dari awal lebih memilih cara aman? Bisa saja. Entah kapan. Mungkin terlambat.
Tapi kalau menyerah ketika terjatuh pertama kali? Aku rasa berjalan akan menjadi angan belaka.


-dari yang sedang belajar berjalan


catatan: Postingan ini merupakan tulisan aku yang di-repost dari akun aku di sebelah. Sebelah mana? Sebelah sanaaaa~~ hahaha. Keinget dulu nulis postingan ini pas lagi demam, lebih dari 2 tahun lalu.

6 Mei 2018

[Spoiler Alert] Film: "Kenapa Harus Bule?" tentang Pilihan, Jodoh, dan Pandangan Hidup

Minggu, Mei 06, 2018 Posted by Sylvia Farmasya 2 comments
Hai… Udah lama banget ngga posting disini. Ok, wait.. terakhir posting sekitar Bulan Mei 2017? Hahahahaha ini gimana ceritanya udah janji mau produktif posting tapi realitanya hanya bisa ngeposting 1 tahun sekali. Sebenarnya, karena setahun belakangan ini aku ngalamin perubahan hidup *gaul beud bahasa lau Sil*, jadi intinya banyak adaptasi dan kesibukan lain yang ngebuat aku harus mengesampingkan kehidupan di dunia maya. *Padahal dari dulu juga lau ga rajin-rajin amat bikin postingan Sil* àIni suara hati aku kenapa protes mulu ya sama apa yang aku tulis. Mana gamau aku hapus lagi tulisannya hahahah

Karena akhir-akhir ini aku ngerasa kurang produktif, sering ngestuck, mental block, dan susah mengungkapkan kata-kata *saikkk.. Padahal, di otak banyak banget ide-ide yang pengen dikeluarkan dan banyak rencana mau ini-itu serta belajar ini-itu yang karena bingung mau mulai dari mana, akhirnya berakhir dengan hanya main games di handphone. Udah terlalu numpuk kali ya. Berasa tumpul juga ini otak. Jadi, sebagai salah satu jalan keluar, aku pilih kembali mulai nulis banyak hal sebebasnya disini sebagai latihan plus therapi untuk mengurai keruwetan di kepala. Tapi siapin mental juga soalnya tulisan ini bakalan super duper mega panjang. Karena.. Ya tau sendiri kan, nulis setaun sekali jadinya kangen pengen nulis semuanya dan yaudah lah baca aja! àTiba-tiba emosi haha

Sebenernya sih kali ini mau nyerita aja. Seharian ini aku full istirahat, guling-guling di kasur, baca buku, nonton film. Pokoknya me-time laaah.. daaan.. salah satu hal yang pengen aku bahas adalah tontonan aku hari ini.
Yaa.. jadi hari ini iseng-iseng aku buka-buka aplikasi viu dan setelah sekian lama nge-scroll berakhirlah di sebuah film dengan judul yang bikin penasaran.
Judulnya: “Kenapa Harus Bule?”. Langsung download dan tonton.

Sumber Gambar disini


Film dibuka dengan voice over suara hati seorang Pipin mengenai pilihan hidup. Wanita usia akhir 20-an yang semakin lama dilihat secara keseluruhan, kita bakalan takjub sama dandanannya. Kalo boleh aku bilang, menor abis! Di usianya yang sekarang, Pipin galau banget sama permasalahan jodoh. Tapi ada satu hal yang harus terpenuhi dalam kriteria pendamping hidupnya: Bule! Ngga ada kompromi soal itu.

Di dalam film juga berulang kali terdapat potongan-potongan alasan Pipin keukeuh mencari Bule alias Expatriat sebagai pendamping hidupnya. Dimulai dari pengalaman jaman kanak-kanak, yang sepertinya sedikit-banyak berpengaruh (walaupun aku yakin adegan ini lebih menekankan tentang persahabatan masa kecil), ada juga beberapa percakapan Pipin dan sahabatnya Arik mengenai penegasan alasan-alasan dia kenapa harus sama Bule: mengenai penampilan (atau mungkin warna kulitnya) yang eksotis dan akan dianggap jelek dimata orang Indonesia, romantisnya Bule, masalah Emansipasi, memperbaiki keturunan, dan masih banyak lagi.

Galau nya Pipin bukan tanpa usaha. Pipin sudah berulangkali menjalin hubungan dengan Bule, dan berakhir dengan buruk. Pipin berusaha hunting Bule di Kelab atau Pub malam sampai aplikasi Minder (ada ya? Apa plesetan dari Tinder? Haha). Tapi walaupun incerannya Bule, Pipin punya prinsip: no sex before marriage. *good girl!

Beruntung Pipin punya Arik sahabatnya yang logis banget. Sahabat ideal yang bisa diajak berdebat sampai berantem tapi tetep selalu nyediain pundak untuk bersandar ketika kita lelah sama hidup. Aku juga suka sama percakapan mereka yang santai tapi sungguh dalem banget.
Misalnya ketika mereka berdua ngomongin masalah emansipasi wanita. Kaya gini:
…..
“Beda kasus lah kalo elo sama gue. Justru masih pada muna karena society nya masih pada muna. Masih judgemental.”
“Itu ya. Lo yang bilang sendiri ya. Society kita masih muna dan judgemental. Termasuk cowok-cowoknya. Maunya cewek harus nunduk sama cowok. Harus ngurusin anak, ngurusin rumah tangga, blablabla, bliblibli, blobloblo. Terserah! Kan gue maunya emansipasi Mak, dan cuma Bule yang menghargai emansipasi.”
“Elo mau ngomongin emansipasi? Hei, elo mau nyari nafkah jadi tulang punggung keluarga? Elo mau kalo jalan, elo yang ngelindungin cowok lo? Elo mau nyetir anter-jemput cowok lo?”
“Itu kan kodrat cowok.”
“Kodrat. Kodrat. Kadang rempongnya perempuan kayak elo tuh di satu sisi elo heboh ngomongin emansipasi, di satu sisi elo ngomongin kodrat. Mau ngomongin emansipasi tapi juga mau ngedapetin benefitnya jadi perempuan. Apakabar emansipasi lo? Kalo emang mau ngomongin emansipasi dan disetarakan dengan cowok, ya fair dong. Berbagi beban dan tanggung jawab sama rata!”

Iyes, kali ini aku setuju sama Arik. Para wanita yang mengagungkan emansipasi seringkali (walau ngga semua) pada punya standar ganda. Pengennya disetarakan, tapi tetep pengen diperlakukan utama sebagai wanita yang rapuh dan butuh perlindungan. Padahal kan hidup udah punya porsinya masing-masing. Toh selama ini di Islam juga perempuan udah diperlakukan istimewa. Hak berpendapat juga udah dapet. Mau kerja? Boleh sih, dengan berbagai catatan. Pinter-pinternya situ aja ngelobby suami. *nah kan, jadi bawa-bawa agama. Yah gimana dong, soalnya di kehidupan mah agama sih yang bikin hati kita ngerasa penuh dan ngga kosong. Jadi ya pasti bawa-bawa agama.
Soal human trafficking yang seringkali nyasar wanita? Itu mah bukan gara-gara kesetaraan gender. Itu mah cowok-cowok yang terlibat di dalemnya aja yang mentalnya bobrok! *jauh beud kan komentar gue hahaha

Percakapan lain yang menarik antara dua sahabat ini adalah saat Arik gemes karena tidak habis pikir sama Pipin yang disodorkan lelaki “sempurna” bernama Ben (yang kemudian diketahui merupakan sahabat masa kecil mereka bernama Buyung) tapi ditolak Pipin dengan alasan dia bukan Bule.
“Mak, kan gue juga mau memperbaiki keturunan Mak. Ini soal selera loh.”
“Itu dia yang mesti dilacak, selera kok rasis? You know what? I know what it is”
“What?”
“It’s white Supremacy!”
“Kadang gue mikir ya, bangsa kita sebenernya masih dijajah secara mental. Liat Bule aja langsung pada nunduk. Seolah-olah bangga gitu kalau gaul sama Bule. Kayanya martabatnya naik gitu kalau gaul atau digauli sama Bule. Kayak elo gitu deh”

Menarik sih. Emang bener juga kata Arik. Penjajahan yang konon kabarnya sampe 3,5 abad ini ngebikin mental kita turun temurun ngerasa kalo bangsa eropa lebih dari segalanya dibandingin sama pribumi. Termasuk stereotipe yang terlanjur berkembang bahwa orang Bule itu Romantis, Mapan, Menghargai Perempuan, dan Pro Emansipasi. *Oh Really?

Dan finally Pipin ketemu Bule yang menurut Pipin “Husband Material banget!” Ganteng, mapan, dan romantis. Namanya Gianfranco. Bule Italy yang bisnisnya di bidang properti semacem Villa di Bali. Cowok yang semenjak pertemuan mereka yang pertama udah ngga disuka sama Arik sahabatnya. Dan.. iya sih, tampak keanehan-keanehan dari si Gianfranco ini. Mulai tiap kali jalan dan makan di resto, dia selalu ketinggalan dompet dan Pipin yang akhirnya harus selalu bayar kencan mereka. Lalu waktu motornya mogok, Pipin juga yang harus ngedorong motor sementara Gianfranco naek diatas motor itu dengan diakhiri Pipin juga yang harus ngebeliin bensinnya. Terus Ganfranco juga cemburuan abis. Ngga boleh Pipin temenan sama cowok lain, dan waktu Pipin mau jalan sama Buyung (teman masa kecil Pipin) dan si Gianfranco tau, dia tiba-tiba nyuruh Pipin dateng ke Villanya saat itu juga karena hal yang ngga penting. Belom lagi Pipin disuruh ngeberesin Villa nya tiap kali Pipin dateng kesana. Dan Gianfranco yang nyuruh Pipin yang belum dapet kerjaan buat kerja aja di Villa nya (jadi tukang bersih-bersih gitu maksudnya) dan waktu Pipin nanya apa bakalan digaji, si Gianfranco bilang “bakalan dibayar pake Cinta!” Kampret banget emang! Pengen ngeludahin takut dosa. Walau akhirnya diralat, dan bilang bakalan dibayar. Dan aku mikir, ini lah doa yang dikabulkan karena Pipin pengen banget sama Bule karena salah satunya emansipasi. Tapi kok, ngga imbang banget ya? Terakhir nih ya Gianfranco juga sering banget marah-marah sama Pipin karena hal-hal yang remeh. Pokoknya kalo ada masalah, semua salah Pipin.

Tapi di dalem film ini juga aku jadi dapet sedikit jawaban kenapa orang-orang di kota besar santai banget masalah nikah. Aku sering banget bertanya. Gimana ntar pas tua dan renta kalo ngga mau nikah atau ngga mau punya anak? Plan mereka tuh kaya apa? Lagi-lagi dari scene favorit percakapan Pipin dan Arik.
“Yaudah. Ya siap-siap terima nasib aja. Ngga semua orang takdirnya kawin kan?”
“Tapi gue pengen Mak.”
“Terus plan B lo apa kalau misalkan ga kawin?”
“Ngga ada plan B plan B-an. Gue pasti kawin. Gue harus kawin. Gue ngga mau ada pikiran kalau gue ngga bakalan kawin.”
“Coba lo pikir lagi. Apa sih yang bikin lo ngebet kawin? Gengsi? Keturunan? Gunjingan orang? Klise!”
“Ya semuanya mak.”
“Ya ngapain pusing? Mau kawin kek, ngga kawin. Semua orang selalu punya cara buat gunjingin kita kok. Lagian alesan yang dipake orang-orang buat kawin itu cuma alasan-alasan egois doang. Udah kita ngga butuh lelaki dalam hidup kita Mak. Yang penting sekarang fokus, kerja keras, cari uang yang banyak. Ntar kalo udah tua ngumpul sama temen-temen. Seneng-seneng. Udah paling bener.”
“Emangnya harus ada alasan agung buat nikah ya Mak? Cuma karena pengen mencintai dan dicintai aja ngga cukup?

Dari percakapan mereka, relate banget sama keadaan jaman now yang makin kesini mulut orang makin pedes kaya Karedok yang dikaretin 2 karena cabe nya dibanyakin. Orang banyak banget nyinyir-in kehidupan orang. Dan pertanyaan “Kapan Kawin” seolah jadi frasa wajib yang diungkapkan dalam percakapan tiap kumpulan keluarga, reuni, sampe obrolan santai warung kopi. Dan ya, kita akhirnya harus merenungi lagi alasan kita untuk nikah itu karena apa? Murni semata karena ingin memuaskan pertanyaan kehidupan “kapan kawin?” atau karena dalam diri kita udah mantap dan siap buat nikah?

Selain Arik, Pipin juga punya Ibu yang open minded sama pilihan hidup tapi tetap megang teguh sama prinsip. Misalnya scene waktu pipin pertama kali kencan.

“Perempuan itu suka bloon kalo urusan hati. Gini-gini ibu tuh pinter. Dan ibu ngga mau anak gadis ibu satu-satunya jadi bloon gara-gara pria”

Kita bakalan ngerti banget bahwa kalo lagi cinta-cintanya, logika seolah menguap gitu aja. Kalimat diatas jadi pendukung buat ibu menekankan ke anaknya bahwa ngga boleh melepas keperawanan sebelum menikah. Dan di scene itu juga aku tau darimana dandanan ajaib Pipin berasal.

Atau pada percakapan lainnya:
“Pin, emang pernah ibu maksa kamu nikah? Pernah? Ngga kan? Kamu nikah atau ngga nikah, selama kamu happy ya ibu juga ikut happy.”
“Ibu ngga peduli kamu nikah atau ngga nikah tapi ibu ngga mau kamu nyerah. Ngga ada keharusan buat kamu untuk nikah. Asal. Asal karena kamu bukan karena putus asa dan nyerah ya. Fokus ke hal lain. Jangan ngoyo mikirin jodoh. Kamu sudah sampai sana. Jangan balik karena patah hati. Kamu bisa fokus ke diri sendiri, teman, karir. Dan mungkin. Mungkin tau-tau jodoh nongol sendiri. Tau-tau yang kamu cari kesana kemari tau tau nongol di depan mata. Kamu grasa-grusu malah jodoh sudah ada di depan mata bisa lepas dari tangan. Inget ngga? Ibu kan sering bilang hidup itu adalah rangkaian keputusan yang kita buat dan ibu Cuma berharap kamu bisa buat keputusan yang bener. Yang sesuai dengan kata hati kamu.”

Yes.. hidup itu adalah rangkaian keputusan yang kita buat. Dampaknya mungkin ngga akan dirasakan sekarang, tapi siapa yang bakalan tau bakalan terjadi di beberapa tahun lagi. Kadang juga kita mikirnya kejauhan, terlalu visioner. Padahal yang deket-deket kita lewatin. Aku juga suka gemes sama teman-teman yang sering banget ngeluh masalah jodoh. Seolah hidup itu cuma tentang percintaan. Padahal kan seperti ibunya Pipin bilang, bisa aja sambil nunggu jodoh kita bisa memperbaiki diri dengan fokus ke hal lain. Misalnya ningkatin pendidikan, ngejar karir, hobi, pengalaman, dll. Intinya sih life balancing. Biar hidup ngga kebanyakan drama kaya opera sabun.

Ada hal lain yang juga aku suka di film ini adalah cara Pipin ngomong bahasa Inggris yang logatnya Indonesia banget. Lucu dan polos gimanaaaa gitu. Harus nonton langsung lah biar ngerti. Menggemaskan. Hahaha.

But ya.. nobody’s perfect! Istilahnya, kita ngga bisa menyenangkan hati setiap orang. Ngga bakalan bisa memuaskan hasrat setiap orang. Seperti juga film ini. Seperti di bagian percakapan antara ibu sama Pipin yang menurut aku cuma gitu aja, Pipin langsung mengubah pandangannya tentang jodoh. Padahal, dari sebelum ini bisa dibilang, Arik udah ngasih tau lebih keras dan frontal tapi tetep aja ngga mengubah pendirian Pipin tentang jodoh. Termasuk pengalaman dengan Gianfranco yang juga ngga gampang bikin Pipin kapok. Begitu emaknya ngomong segitu doang, langsung *tring! Berubah! Hmm atau emang, perkataan seorang Ibu mah beda feel nya, orang bakalan lebih percaya dan langsung luluh kalo ibu sendiri yang bilang. Ya bisa jadi sih.
Bagian lain yang ngga memuaskan aku adalah LGBT-things. Hal ini emang umum terjadi di kota besar but ya I don’t know aku masih ngerasa sayang banget kenapa harus LGBT, kenapa ngga kembali ke jalan yang lurus. Harus open minded kan? Jadi aku yakin, yang pro-LGBT pun harus open minded sama orang-orang kaya aku yang ngga pro sama LGBT. Asal ngga menyenggol satu sama lain, it’s ok lah ya.
Dan jangan harap kamu bakalan dapetin twist ending. Ini mah drama percintaan. Endingnya pasti udah kamu antisipasi. Agak klise dengan kisah percintaan masa kecil. Tapi oke sih. Dan sebenarnya ini ada pemeran utama cowok satu lagi. Tapi dari tadi ngga banyak aku ceritain. Kenapa ya? Hahaha. Tonton sendiri deh biar tau ceritanya.

Kesimpulannya adalah film ini layak ditonton buat kamu-kamu yang pengen nonton film yang keliatannya ringan tapi sarat makna. Dan ya, film ini juga ngebuktiin ngga semua drama percintaan buatan Indonesia bikin kita ngomong “Iyuh” sepanjang film. Film ini relate banget sama kehidupan kita terutama yang lagi nyari jodoh karena tentu kita ngga mau dimanfaatkan dan pengen dicintai sama pasangan kita bukan? Banyak pelajaran hidup yang bisa kamu dapetin kalo nontonnya sambil diresapi banget. Film ini juga bakalan mengubah pandangan kita tentang ke-agung-an Bule, yang.. you know kalo cowok romantis dan menghargai perempuan itu bukan karena ras nya, tapi karena karakternya, lingkungan yang membentuknya seperti itu. Bule lebih dari Pribumi? Belum tentu. BOOM!

Semoga tulisan ini bikin kamu penasaran buat nonton film ini secara keseluruhan. Walaupun aku udah nyebarin spoiler dimana-mana hahahaha.

Dan ya, hidup itu pilihan. Termasuk saat kamu milih mau minum teh atau kopi hari ini.
Eh atau, mau minum air putih aja?

Salam Manis,
Sisil ♥


3 Mei 2017

Hai, it's me. Again.

Rabu, Mei 03, 2017 Posted by Sylvia Farmasya No comments
Hai teman-teman!

Udah lama banget semenjak aku terakhir kali bikin postingan di blog ini. Kalo dihitung, udah setahun lebih! Sebenernya udah beberapa kali ingin nulis lagi di blog, tapi karena beberapa pertimbangan jadinya urung buat di publish. Salah satu alasannya karena aku ngerasa berada di fase: ngga suka mengumbar kehidupan pribadi ke orang lain. Lebih suka keep it secret for my self. Nulis di jurnal harian misalnya. Walaupun sebenernya tujuan awal blog ini dibuat untuk dijadikan online diary. But time flies, people change.

sumber gambar


Dan mulai sekarang aku bakalan nulis lagi beberapa postingan, tapi lebih general. Lebih ke pemikiran-pemikiran aku. Kadang bisa nyerempet kehidupan pribadi tapi dengan porsi yang sangat sedikit. Personal life sepertinya cuma bakalan jadi pelengkap doang.

Oke. Kita mulai dengan postingan-postingan baru ke depan. Psst. Apa boleh aku sebut ini sebagai sylviafarmasya.blogspot.com Seasion 2? hahahahaha. *gausah lah ya.
Dan, hai. Selamat bertemu lagi dunia blog!

10 Maret 2016

Lagi-lagi Tampilan Baru dan Curhat Tentang Makko

Kamis, Maret 10, 2016 Posted by Sylvia Farmasya , 1 comment
Harusnya postingan ini aku buat kemarin, tapi karena kemarin dihabiskan sama edit-edit tampilan dan bikin postingan tambahan di sini (Review Komik) 5 Menit Sebelum Tayang, jadinya mau nulis ini juga udah keburu capek duluan. Sebenernya nulisnya mah cepet, tapi sinyal internet bener-bener menguji iman dan kesabaran hahahaha.. Lelet ehehehe

Kalo diliat-liat, kayanya frekuensi ganti tampilan sama bikin postingan baru, lebih rajin ganti tampilan yaa.. hahahaha maaf deeh, soalnya sekarang masih nyari-nyari tampilan yang bikin nyaman, sederhana, nge-load nya cepet, tapi tetep komplit. Yaa yang sesuai lah sama kepribadian aku yang... *ngga mau ngomong sendiri ahh, ntar nasris*. Tampilan ini udah sejak beberapa hari lalu aku pengen pake, tapi ternyata ada sedikit penyesuaian (yang karena aku udah lama ga edit-edit blog) aku jadi bingung sendiri gimana caranya, padahal mah gampang bangeeet~ emang bener sih kata pepatah "alah bisa karena biasa"

Jadi... jadilah tampilan yang sekarang. Bisa temen-temen liat. Tetep sederhana tapi komplit, juga lebih ringan dari tampilan kemarin. Buat kenang-kenangan, aku kasih screenshot tampilan blog aku yang kemarin.


Oh iya, kenapa judulnya disisipin frasa curhat tentang Makko, soalnya kemarin seharian dihabiskan buat nulis tambahan di postingan (Review Komik) 5 Menit Sebelum Tayang, intinya sih disana aku nyeritain gimana komik 5 menit sebelum tayang akhirnya putus ditengah jalan, dan website yang menaunginya, yaitu Makko juga lenyap. Disana aku tulis semuanya. Jadi postingan disana panjaaaaaang~ sekali. hahahhaha.. mampir-mampir ya teman-teman ke postingan ini (Review Komik) 5 Menit Sebelum Tayang, makasih ^^

Oke deeeh, sekian dulu yaa teman-teman. Semoga aku betah, dan teman-teman yang baca juga betah sama tampilan yang sekarang. Maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan, terimakasih sudah berkunjung dan baca postingan ini. Sampai jumpa di postingan selanjutnya. 

Salam Manis,
♥ Sisil ♥

28 Desember 2015

Doa di Hari ini

Senin, Desember 28, 2015 Posted by Sylvia Farmasya No comments

Setiap hari aku selalu berdoa agar segala urusanku sepanjang hari dilancarkan, dikuatkan, dan dimudahkan.

Hmm ya, ini doaku tiap hari bukan hanya hari ini. Tapi karena dibaca tiap hari. Jadi, yaa doa hari ini. Haha

Nb: foto diambil dari weheartit.com | postingan ini adalah postingan perdana lewat handphone, jadi belum paham cara edit dan lainnya. Hehehe